Gunung Penanggungan via Jolotundo




Pendakian Gunung Penanggungan via Jolotundo

Pagi hari yang cerah ada 2 tamu tak diundang yang datang ke Basecamp Cikasur, ateng dan dadang. Mereka mampir dengan membawa karier full perbekalan untuk melakukan pendakian gunung penanggungan via jolotundo. Ya memang Cuma mereka berdua yang akan naik, karena saya ga punya motor selain vespa tua dan juga belum meminta restu ke orang tua. Karena bujuk rayu dari mereka berdua akhirnya aku luluh dan kita sepakat naik kendaraan umum ke jolotundo. Ijin dari orang tua sudah didapat dan tinggal berangkat saja. Aku tahu pasti akan mahal bila naik kendaraan umum, apalagi cuman bertiga. Tapi karena semangat yang besar tidak ada halangan yang bisa menghambat kami. Pendakian ini juga untuk melakukan pemanasan sebelum mendaki ke gunung argopuro 2 hari lagi.


Hari ke 1:

Tepat pukul 12.30 siang, Kami berangkat menggunakan bis umum dari depan RSI Wonokromo , bis Damri AC dengan tariff 6000 rupiah sangat nyaman, tidak ada pengamen dan jarang berhenti. Sampai di Terminal Purabaya (Bungurasih) kami oper ke Bis jurusan Malang dan minta turun di terminal Pandaan. Nah bis ini lumayan mahal kalau tidak tahu ongkosnya, kami membayar 15.000 rupiah untuk sampai ke pandaan. Hanya setengah jam perjalanan karena lewat jalan tol. Sampai di terminal pandaan kami harusnya naik Elf ke pasar dekat tamiajeng dan berjalan kaki santai ke jolotundo. Tapi karena tidak ada penumpang sama sekali dan hari sudah mulai sore kami memutuskan untuk naik ojek. Lagi-lagi kami dikerjai oleh tukang ojek Terminal Pandaan, ongkos ke jolotundo 40.000 rupiah per orang. Perjalanan ke jolotundo sekitar 30 menit.

Pos Perijinan Jolotundo ini berada di atas PPLH Seloliman. Untuk menuju kesini, kalau dari perijinan Tamiajeng, sebelum naik ke atas Ubaya ada palang PPLH seloliman belok kiri. Ikuti saja jalan sampai di kanan ada PPLH Seloliman. Belok kanan dan Naik terus sampai bertemu tempat parkir Jolotundo.

Pintu Masuk Pemandian Jolotundo
Pintu Masuk Pemandian Jolotundo

 


Petirtaan Jolotundo
Petirtaan Jolotundo

Perijinan – Candi Bayi

Candi Bayi Gunung Penanggungan
Candi Bayi

Sampai di petirtaan jolotundo kami membayar tiket masuk sebesar 10.000 rupiah. Akan dimintai KTP sebelum melakukan pendakian, tapi karena kami akan turun via tamiajeng maka tidak meninggalkan KTP. Air di Jolotundo adalah sumber air terbaik nomer 3 di Dunia. Saat itu ada banyak orang mandi, kami mengambil air dan bersiap melakukan pendakian. Trek awal pendakian ada di depan pos penjagaan, tangga yang naik ke atas dan melewati gazebo di sebelah kiri. Jalur menanjak dengan banyak percabangan banyak ditemui dalam perjalanan menuju candi bayi. Untungnya ateng sudah beberapa kali lewat sini , ada yang sampai puncak dan 1x tersesat dan dijemput oleh pak atok tamiajeng . Dia tersesat karena mengikuti jalur batu Watu Calang sampai ke atas. Sebaiknya mengikuti jalan setapak yang paling jelas, disepanjang jalur vegetasi berupa semak,rumput, ilalang,pohon randu dan ada beberapa pohon apukat dan pisang. Ayam Hutan dan burung juga banyak sekali hingga biasanya dijadikan tempat berburu warga sekitar. Setelah lewat hutan , kami disuguhi pemandangan gunung bekel di kiri jalur pendakian. Untuk sampai ke Candi Bayi / pos 1 memakan waktu 45 menit.

Candi Bayi – Candi Putri

Candi Putri Gunung Penanggungan
Candi Putri

 

Setelah melewati candi bayi kami bertemu Watu Calang/Batu talang. Menyebrang watu calang , jalur pendakian ada di sisi sebelah kiri watu calang. Hanya 30 Menit waktu yang diperlukan untuk sampai ke candi putri. Candi Putri dikelilingi hutan lebat. Candi ini sangat besar dengan undakan tangga yang tertata rapi. Di depan candi putri ada spot mendirikan tenda.

Candi Putri – Candi Pura

Candi Pura Gunung Penanggungan
Candi Pura

 

Kami melanjutkan pendakian ke Candi Pura, letaknya cukup dekat dengan candi putri. Hanya 10 menit kami sampai di candi pura. Candi Pura bentuknya awut-awutan dan tidak se-rapi candi bayi dan putri. Ada lesung/ lumpang di depan candi pura.

Candi Pura – Candi Gentong

Candi Gentong Gunung Penanggungan
Candi Gentong

 

Dari candi pura kami melanjutkan langkah kaki dengan pelan ke candi berikutnya, Candi Gentong tidak jauh dari candi pura. Cukup 10 menit jalan santai sudah sampai. Candi gentong ini memiliki sebuah bangunan seperti meja dan ada gentong air besar di sebelahnya.

Candi Gentong – Candi Sinta

Candi Sinta Gunung Penanggungan
Candi Sinta

 

Perjalanan kami lanjutkan ke atas dan hanya 5 menit sampai juga di candi terakhir yaitu candi sinta. Candi ini adalah candi terakhir. Meskipun sebenarnya masih ada candi larik dan candi lurah tapi kami tidak menemuinya. Di depan candi terdapat makam dan ada bangunan candi dengan 4 teras.

Sampai di candi sinta kami mengambil jalan yang ada di sebelah kiri candi dan masuk ke hutan lagi sebentar. Jalur pendakian mulai terbuka dengan pemandangan gunung bekel dan sunset tanah mojokerto. Kami beristirahat karena terdengar suara adzan maghrib. Hari mulai gelap dan kami melanjutkan perjalanan . Dengan bantuan 1 senter HP untuk 3 orang. Tanjakan curam mirip seperti menuju puncak penanggungan via tamiajeng. Tidak ada pohon yang bisa dijadikan pegangan. Angin malam yang berhembus kencang dan kabut mulai menutupi pandangan ke atas dan bawah. Karena itu kami mempercepat langkah untuk mencari tempat berlindung dari angin dan beristirahat tentunya. 40 menit akhirnya sampai di tanah datar, tidak begitu luas. Kami bertiga beristirahat sebentar di cekungan jalan air.

Kami lanjutkan perjalanan, sekitar 15 menit kami sampai di tanah datar lagi, tapi kami bingung apakah ini lapangan di bawah puncak penanggungan atau bukan, karena saat itu kabut menutupi jarak pandang kami.

Karena jam sudah menunjukkan pukul 19.30 maka kami memutuskan mendirikan tenda disitu. 3 jam perjalanan yang dilalui membuat kami tertidur pulas dalam dekapan badai. Hujan lebat turun setelah kami semua masuk tenda. Untung saja tenda sudah berdiri kokoh dengan tambahan flysheet yang biasanya kami tidak pernah bawa.

Hari ke 2 :

Esok paginya ternyata kami benar camp di lapangan bawah puncak gunung penanggungan via jolotundo. Di lapangan ini ada bangunan seperti candi juga tapi tidak seberapa jelas. Disini sunrise sangat indah karena masih banyak rumput yang belum terinjak dan sangat sepi tentunya.

Setelah packing, kami naik ke puncak gunung penanggungan, jalan paling enak adalah melipir ke arah kanan. Jalurnya sudah jelas meski disebelah kanan ada jurang yang dalam. Daripada lewat tengah / bangunan pura itu lewat kanan ini akan lebih menghemat tenaga. Foto di puncak sebentar dan kami turun kearah jalur tamiajeng.

Sampai di pos perijinan tamiajeng kami jalan kaki ke kantor kepala desa tamiajeng. Warung Bu Dian di depan situ menuju tujuan kami. Numpang minum sambil menunggu angkutan pedesaan yang akan mengantarkan kami ke terminal pandaan dan kemudian kembali ke Surabaya.



2 Comments

  1. Nabila Adilah June 2, 2016

Leave a Reply