Catatan Perjalanan Budug Asu via BBIB Lawang

Malang, sebuah kota yang berada di selatan Jawa Timur ini memang memiliki destinasi wisata yang sangat banyak. Mulai dari pantai hingga pegunungan, semua destinasi wisata yang ada tentu saja menarik untuk disinggahi ketika berkunjung ke Malang. Kali ini ada sebuah destinasi wisata yang bisa dibilang masih baru di Malang. Tempat ini adalah Budukasu atau sering juga disebut Budug Asu. Budug Asu merupakan penamaan yang diberikan oleh warga sekitar untuk sebuah bukit yang berada di lereng Gunung Arjuna.



Gerbang masuk kompleks BBIB, lapor dahulu ke satpam yang berjaga sebelum menuju ke Budug Asu.

Gerbang masuk kompleks BBIB, lapor dahulu ke satpam yang berjaga sebelum menuju ke Budug Asu.

Menuju Budug Asu via Lawang

Setidaknya terdapat tiga jalur yang biasa digunakan untuk bisa sampai ke Budug Asu, yaitu lewat kebun teh Wonosari, BBIB (Balai Besar Inseminasi Buatan), dan Sumberawan. Untuk perjalanan kali ini Cikasur melewati jalur BBIB karena menurut kami merupakan rute yang paling cepat. Untuk mencapai BBIB juga sangat mudah, dari Surabaya memerlukan waktu perjalanan kurang lebih 2-3 jam. Gapura masuk BBIB berada di sebelah kanan jalan sekitar 2 kilometer sesudah Pasar Lawang. Setelah memasuki gapura BBIB dibutuhkan waktu sekitar 15 menit melewati jalan desa sebelum akhirnya sampai di pos satpam sebelum kompleks BBIB. Setelah pos satpam kompleks BBIB jalan yang semula beraspal kemudian berganti menjadi jalan tanah dan berbatu.

Disebelah kanan terdapat sebuah warung dan tempat untuk menitipkan sepeda motor

Disebelah kanan terdapat sebuah warung dan tempat untuk menitipkan sepeda motor.

Trek awal menuju ke puncak Budug Asu dengan jalanan berbatu dan menanjak

Trek awal menuju ke puncak Budug Asu dengan jalanan berbatu dan menanjak.

Karena kami tidak menaiki motor trail maka kami memutuskan untuk menitipkan motor kami di sebuah warung yang juga tempat penitipan motor yang terletak tepat sebelum jalur pendakian. Biaya penitipan motor sebesar Rp. 5.000 dan Rp. 10.000 jika sampai menginap. Untuk trek awal disuguhi dengan turunan dengan medan berbatu yang kemudian menanjak curam sekitar 150 meter. Setelah berjalan 20 menit terdapat persimpangan jalan dimana dari sebelah kiri merupakan jalur bagi para offroader yang akan naik maupun turun dari Budug Asu. Sepanjang perjalanan kami dihadapkan dengan trek berbatu yang mirip-mirip dengan yang ada pada jalur pendakian ke Gunung Welirang via Tretes. Beberapa kali kami harus sedikit minggir untuk memberi kesempatan bagi offroader dan motocrosser yang melintas.

BACA JUGA

Catatan Perjalanan Gunung Welirang via Tretes

Trek menuju Budug Asu sangat jelas, karena terdapat banyak penunjuk jalan disepanjang jalur.

Trek menuju Budug Asu sangat jelas, karena terdapat banyak penunjuk jalan disepanjang jalur.

Beberapa kali harus sedikit minggir dari trek untuk memberi kesempatan para offroader dan motocrosser untuk melintas.

Beberapa kali harus sedikit minggir dari trek untuk memberi kesempatan para offroader dan motocrosser untuk melintas.

Harga Tiket Masuk Budug Asu

Setelah berjalan sekitar 2 jam, kami sampai ditempat peristirahatan yang juga merupakan tempat loket masuk ke Budug Asu. Untuk para pengunjung diwajibkan untuk membeli tiket masuk seharga Rp. 5.000/orang. Disini terdapat warung yang menjual mie dan aneka minuman kemasan, juga terdapat gazebo yang bisa digunakan untuk beristirahat sejenak melepas lelah.

Sebelum menuju puncak, wisatawan diharuskan membayar tiket masuk. Jalur menuju puncak berada disebelah kanan loket pembayaran

Sebelum menuju puncak, wisatawan diharuskan membayar tiket masuk. Jalur menuju puncak berada disebelah kanan loket pembayaran.

Untuk mencapai bukit Budug Asu terdapat dua pilihan jalur. Jalur paling cepat terletak disebelah kanan loket masuk dengan tanjakan terjal sejauh 850 meter. Jalur kedua merupakan jalur untuk dilewati para motocrosser dan offroader dengan rute memutar sejauh 2 kilometer.

Trek menuju puncak berupah tanah yang dibentuk menyerupai anak tangga yang dinamakan dengn tanjakan dhemit.

Trek menuju puncak berupah tanah yang dibentuk menyerupai anak tangga yang dinamakan dengn tanjakan dhemit.

Setelah beristirahat sejenak, kami segera bersiap-siap untuk menuju ke puncak Budug Asu. Karena pertimbangan waktu, kami memutuskan untuk melewati jalur pendek supaya lebih cepat untuk sampai ke puncak. Kami dihadapkan dengan tanjakan dhemit yang berupa trek tanah yang dibentuk menyerupai anak tangga dengan kemiringan sekitar 60 derajat. Pada tengah trek terdapat tali yang bisa digunakan sebagai pegangan ketika naik maupun menuruni bukit. Sesekali kami berhenti untuk mengatur nafas dan mengistirahatkan kaki sejenak. Jalur ini sungguh sangat menguras tenaga. Sekitar 150 meter sebelum puncak, jalur berubah menjadi sangat terjal dan tidak lagi terdapat susunan tanah yang menyerupai anak tangga. Dibutuhkan ekstra tenaga dan kehati-hatian supaya tidak sampai terjatuh.

Puncak Budug Asu, terdapat sebuah warung dengan gazebo di sampingnya sebagai tempat berteduh

Puncak Budug Asu, terdapat sebuah warung dengan gazebo di sampingnya sebagai tempat berteduh.

Tanah lapang di puncak Budug Asu dengan latar belakang lereng Gunung Arjuno

Tanah lapang di puncak Budug Asu dengan latar belakang lereng Gunung Arjuno,

Setelah berjalan menanjak selama 30 menit sampai-lah kami di puncak Budug Asu. Puncak Budug Asu berupa tanah lapang yang lumayan luas yang bisa digunakan untuk memarkir beberapa mobil 4×4 dan motor trail. Disini juga terdapat sebuah warung yang menjual aneka makanan seperti, soto ayam, ayam rica-rica, gorengan, dan juga aneka minuman seperti, air mineral, teh manis, dan kopi. Disamping warung juga terdapat sebuah gazebo yang bisa digunakan sebagai tempat untuk duduk-duduk dan berteduh, mengingat dipuncak bukit tidak terdapat begitu banyak pepohonan yang rindang, dan cuaca saat itu cenderung cukup panas.

Berfoto ria dengan latar belakang lereng Gunung Arjuno yang megah nan hijau.

Berfoto ria dengan latar belakang lereng Gunung Arjuno yang megah nan hijau.

Disisi barat terdapat gardu foto yang dibentuk menyerupai anjing/serigala dengan pemandangan puncak Gunung Arjuno

Disisi barat terdapat gardu foto yang dibentuk menyerupai anjing/serigala dengan pemandangan puncak Gunung Arjuno.

Bergerak ke barat sedikit terdapat sebuah gardu foto yang dibentuk menyerupai kepala anjing/serigala. Disini teman-teman bisa asik berfoto ria dengan latar belakang gagahnya Gunung Arjuno. Apabila cuaca sedang cerah kita dapat melihat dengan jelas puncak Gunung Arjuno. Hal yang perlu diperhatikan ketika berada di Budug Asu adalah teman-teman harus tetap berhati-hati ketika sedang berfoto. Mengingat Budug Asu merupakan sebuah bukit yang sekelilingnya adalah jurang. Jangan sampai demi hasil foto yang keren teman-teman mengambil foto hingga terlalu ke pinggir/bibir bukit yang nantinya dapat berakibat fatal seperti jatuh dan terperosok.

BACA JUGA

Catatan Perjalanan Pendakian Gunung Arjuno via Tretes

Sekian cerita perjalanan kami ke Budug Asu, semoga dapat memberikan manfaat dan bisa menjadi referensi bagi teman-teman yang hendak berwisata kesana. Salam Lestari.

2 Comments

  1. Matakaki May 4, 2018
  2. Liana May 9, 2018

Leave a Reply