Review Buku Cinta Tak Pernah Tepat Waktu – Puthut EA




Apakah kamu gemar membaca buku? Tak perlu baca buku yang isinya berat-berat, yang tebalnya sampai bikin kapok dengan hanya melihatnya, dengan font size 11 dan line spacing 1. Kalau memang tidak menggemari membaca buku, baiklah. Tapi bagaimana dengan mendengarkan cerita? Apa kamu masih bisa menahan hasrat untuk tidak medengar cerita-cerita yang sedang hits, apalagi cerita tentang kisah pilu percintaan temanmu? Ah, sulit betul kiranya jika harus melewatkan desas-desus tentang kisah melas drama percintaan teman-teman, apalagi teman satu tongkrongan, ya kan?


Cinta Tak Pernah Tepat Waktu adalah sebuah judul novel tulisan Puthut EA, yang di terbitkan oleh Orakel pada tahun 2005, dan diterbitkan ulang oleh Mojok. Novel satu ini rasa-rasanya cocok buat kamu yang tidak terlalu suka membaca, membolak-balik halaman yang berlembar-lembar dan hanya mendapat kebosanan. Tebal halaman yang hanya dua ratusan dan penggunaan bahasa yang biasa saja merupakan senjata pemikat yang dimiliki novel ini – atau mungkin penulisnya. Dua ratusan halaman plus bahasa yang sederhana bukan merupakan hal yang perlu kamu cemaskan. Ditambah lagi kisah-kisah melodramatic dalam novel ini terjadi pada era pemuda banget, era reformasi dan pergolakan setelahnya.

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

“Aku tak ingin cinta sejati. Tapi biarkan aku mencicipi cinta yang bukan sesaat. Biarkan aku berjuang dan bertahan disana. Biarkan aku tersiksa untuk terus belajar bersetia. Aku rela tenggelam di sana, sebagaimana segelintir orang yang mampu mendapatkannya.”

Saat pertama kamu baca judul novel ini, kisah seperti apa yang mungkin dapat kamu bayangkan akan ada di dalamnya? Secara sangat sederhana, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu sangat merepresentasikan keseluruhan isi di dalamnya. Melankoli, drama, kasih tak sampai, kurang lebih topik-topik seperti inilah yang akan menyapa kamu saat halaman demi halaman tuntas kamu tandaskan. Dan, jika kamu tidak terlalu suka dengan drama dan melankolia – mungkin pengalaman hidup kamu jauh lebih sendu, tenang. Mas Puthut telah mengemas isi cerita secara spesial untuk kamu dengan kisah lempeng keseharian seorang anak manusia yang ”sibuk” dengan rutinitasnya yang biasa saja, sambil sesekali terselip kisah-kisah nostalgia tentang petualangan masa muda.


Kamu tahu, saat kata-kata lempeng, biasa saja, dan sederhana tertuang dalam tulisan ini, bukan berarti novel ini tidak berbobot ataupun tidak menarik. Biarpun tebal halaman tidak sampai tembus tiga ratus lembar – versi terbitan Mojok, novel ini mungkin akan dapat mendorong kamu untuk bersimpati kepada Mas N – selanjutnya akan disebut sebagai Nunuk, pelaku dan korban sekaligus dalam kisah melas percintaannya.

Kata pertama, lempeng. Sepanjang perjalanan yang hilir-mudik tersaji dalam novel ini, kehidupan Nunuk digambarkan dengan keseharinnya sebagai penulis lepas, yang dalam komunitas atau kelompoknya, Nunuk mendapat julukan atau jabatan atau level “Pembunuh Bayaran”. Kehidupan Nunuk sebagai penulis lepas jauh dari kata mengagumkan, sangat mainstream malah. Bangun siang, merokok, bermalas-malasan sambil nonton tv, mengecek email, nongkrong sama teman-teman kontrakan yang selanjutnya ditutup dengan mengejar dead-line tulisan pesanan A, B, C, D, E. Di tengah kehidupan Nunuk yang lempeng itulah, penulis menyisipkan nila dan pesan dari Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Sikap dan cara menghadapi masa lalu ala Nunuk yang begitu mainstream menjadikan kisah Nunuk seakan-akan sedang berada dekat dengan para pembacanya. Hal ini tak lain yang akan menyulut rasa simpati dan bahkan empati pembaca kepada kisah hidup Nunuk.

Kata kedua, biasa saja. Kata yang dipilih dalam novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu adalah kata-kata sederhana dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Malah dengan begitulah pengembaraan cinta seorang Nunuk yang getir diceritakan dengan apa adanya. Kamu seolah-olah ditarik kedalam buku dan seketika itu kamu sedang berada di sebuah kedai kopi – angkringan juga boleh, duduk bersama si Nunuk ini dan dengan seksama kamu memperhatikan setiap kata-katanya yang sesekali diselipi rasa resah, getir, haru, bahagia, sungut, kesal, dan keraguan.

Kata ketiga, sederhana. Cerita Nunuk dalam novel ini boleh dibilang cukup kompleks sebenarnya. Kompleksitas permasalahan yang dihadapi oleh sang tokoh utama ini tidak akan banyak ditemui pada kata-kata di dalam novel. Singkatnya, permasalah mendalam yang dihadapi oleh Nunuk tidak terdefinisikan dengan kata-kata. Gejolak yang dihadapi oleh Nunuk ditampakkan secara tersirat. Kegelisahan dan kekalutan yang dialaminya lebih sering tampak sebagai suatu konflik batin. Siapa kiranya yang bisa secara gamblang dapat menguraikan permasalahan-permasalan batin? Inilah yang menjadi kesederhanaan dalam novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Penulis tidak memaksakan untuk menguak pergolakan batin yang dialami Nunuk secara terperinci, dan menyisakan tugas itu kepada kamu dan para pembaca novel ini, untuk mencoba berempati terhadap apa yang mungkin dirasakan dan dipikirkan oleh Nunuk. Kan kamu tahu setiap orang punya persepsi yang berbeda-beda?

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, mungkin bagi beberapa yang tak sepaham, hanya dengan membaca judul pada sampul buku, langsung menyangga “cinta tak datang dari dunia, cinta tak mengenal waktu”. Namun bagi siapa saja yang bernasib sama naas, judul buku ini akan kembali menguak sedikit-sedikit rindu terhadap masa lalu.

Jadi bagaimana sekarang? Apa kamu sudah ingin menemui Nunuk dan siap mendengarkan ceritanya yang lempeng, biasa saja dan sederhana?

 



3 Comments

  1. Matakaki April 26, 2018
    • cikasur April 26, 2018
  2. Miau May 8, 2018

Leave a Reply