Kartini Tidak Hanya Hari Ini!

Kartini yang sering disebut sebagai seorang Gadis Jepara dalam tetralogi novel roman karya Pramoedya Ananta Toer–lebih dikenal sebagai tetralogi Buru, adalah sosok wanita yang hari-hari ini dikenal luas namanya, tapi tidak dengan kisahnya.

Kartini yang sering disebut sebagai seorang Gadis Jepara dalam tetralogi novel roman karya Pramoedya Ananta Toer–lebih dikenal sebagai tetralogi Buru, adalah sosok wanita yang hari-hari ini dikenal luas namanya, tapi tidak dengan kisahnya.



Ibu Kartini tidak ingin dirayakan ulang tahunnya. Dia sama sekali tidak terkesan dengan euforia buatan setiap tanggal jadi kelahirannya. Muda-mudi mengenakan kebaya, karyawan-karyawati berlomba necis pakaiannya, ah, itulah hari Kartini hari ini – tidak lebih?

Raden Adjeng (Ayu) Kartini Djojo Adhiningrat lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tahun 1879 yang mana–konon, hari kelahirannya dikenang dan selalu di peringati sebagai hari Kartini tiap tanggal 21 bulan April.

Kisah si Gadis Jepara hanyalah sebagian kecil contoh pergerakan–atau hanya pemberontakan ide–yang tercetus dari buah pikir seorang wanita. Dan apabila diambil perbandingan, apa yang telah dilakukan oleh Kartini bukanlah apa-apa, jika dibandingkan dengan yang dilakukan oleh wanita-wanita di negeri biru–eropa–sana.

Namun Kartini adalah Kartini. Dia tentu tidak bisa diperbandingkan dengan Rosa Luxemberg ataupun dengan Henriette Roland Holst, walaupun mereka hidup pada era yang sama. Kartini adalah kartini yang terlahir sebagai anak priyayi Jawa yang nilai-nilai luhurnya sudah dipolitisasi untuk kepentingan dan kekuasaan para pembesar. Satu hal lagi yang menjadikan Kartini tidak bisa diperbandingkan dengan para noni eropa, dia lahir di tanah air yang mana pemilik tanah harus menjadi buruh di ladang-sawahnya sendiri.

Tidak melulu seorang feminis yang menuntut kesetaraan, dan tidak perlu menjadi pasifis untuk menentang segala tindak kekerasan – perang. Percaya tidak percaya, mereka yang turun ke medan pertempuran adalah orang-orang yang sangat mengutuk peperangan. Dan semua orang yang masih membiarkan nuraninya hidup adalah orang-orang yang menghendaki ekualitet. Pun dengan Kartini. Sebagai seorang yang mendapat gelar priyayi secara cuma-cuma, Kartini si Gadis Jepara juga melakukan perlawanan.

Tidak mau tunduk dengan adat Jawa yang sudah semakin mirip dengan adat politik dan kekuasaan, Kartini terus menerus menyerukan keinginannya agar para wanita–pada khususnya-Indonesia mendapatkan kemerdekaannya dalam menentukan nasib sendiri.

Apabila di golongkan, maka akan di dapati tiga tingkatan–pergerakan-perempuan: PERTAMA, adalah perempuan yang selalu mengusahakan untuk menyempurnakan ”keperempuannya”. Yang artinya perempuan hanya terus-menerus memantaskan dirinya agar dapat disanding oleh laki-laki. Inilah rupa pergerakan wanita yang saat ini lebih dikenali dengan istilah 3m (masak, macak, manak). Perempuan dalam kelompok ini akan merelakan dirinya dikungkung oleh aturan-aturan yang membatasi dirinya sendiri untuk berkembang. Dan sendirinya mereka dengan sukarela akan takluk pada laki dan berguna sebagai alat saja.

KEDUA, adalah perempuan yang yang menghendaki dan meneriakkan tuntutan kesetaraan hak dengan laki-laki. Gerakan kedua ini, umumnya terjadi pada wilayah yang sudah memiliki tingkat industrialisasi yang cukup maju dan lingkungannya memiliki kesadaran kapitalisme-orientasi cuan-yang tinggi. Para wanita pada kelompok ini menghendaki kesetaraan hak dan kewajiban terhadap kaum laki. Bentuk-bentuk pergerakan mereka memang beragam, namun apa yang di kehendaki oleh pergerakan terbungkus dalam satu suara yaitu “emansipasi” atau “emansipasi wanita”.

KETIGA, adalah gerakan perempuan yang menyadari bahwa persamaan hak tidaklah cukup. Karena bersamaan dengan kesadaran akan persaaman hak, muncul pula kesadaran bahwa persamaan hak nantinya hanya berdampak pada kelompok tertentu saja-persamaan hak hanya bisa dinikmati oleh wanita kalangan atas. Maka dari terangnya kesadaran-kesadaran itulah, muncul satu jenis kelompok wanita yang lain (yang telah berevolusi) yaitu kelompok (wanita) sosialis, yang pada saat ini bisa jadi dianggap sebagai suatu bentuk pergerakan yang radikal dan ekstrim. Pada kelompok yang belakang ini, tidak hanya penghapusan sistem patriarki-atau hanya sekadar toleransi- yang digalakkan. Mereka-para wanita- memiliki kehendak yang lebih besar dengan menghedaki perubahan sistem secara menyeluruh. Tidak hanya menghendaki, namun kelompok ini juga sebisa dan seharus mungkin berpartisipasi-bergotong royong- bersama-sama seluruh elemen untuk mewujudkan cita-cita bersama. Yang artinya, kelompok ini menginginkan perubahan nilai-nilai yang dianggap mengekang, membatasi, dan menindas pihak manapun.

Dari ketiga kelompok yang telah sedikit-sedikit dipaparkan diatas, kelompok pertama dan kedua adalah kelompok yang paling sering kita temui pada kehidupan sekarang ini. Sedangkan kelompok ketiga adalah suatu bentuk gerak kolektif yang madani.

Apa yang terjadi dengan Kartini yang mangkat pada usianya muda adalah dia hendak menerobos portal-portal zaman yang menghijab negeri Hindia Belanda pada saat itu. Dia dijodohkan dengan bangsawan Rembang yang dia sama sekali tidak kenal apalagi cintai. Pikiran-pikiran Kartini sedang berlari menggapai cita-cita wanita Indonesia yang mandiri dan dapat berkontribusi bagi perubahan dan pergerakan bangsanya. Namun yang terjadi, pikirannya belum sampai mewujud kata-kata. Kartini belum sempat mengobarkan suaranya di panggung-panggung. Dia dipaksa tunduk pada nilai Jawa-yang terpolitisasi- dengan mengatas namakan cinta pada Romo-nya. Kartini tidak menyerah, sebenarnya. Melalui korespondensi dengan sejawatnya-dengan berkirim surat, dapat diketahui bahwa kartini menyampaikan pidato-pidatonya tanpa mimbar. Meski tanpa mimbar, kini pidato-pidato si Gadis Jepara malah semakin tersebar luas gaungnya.

Sayup-sayup suara Kartini, meski samar, pun, masih terdengar oleh siapa saja yang jiwanya selalu muda, selalu dipenuhi rasa ingin tahu-yang oleh karenanya menjadi tidak mudah puas dan tidak mudah percaya- akan pengetahuan dan sejarah.

Harapan seorang kartini-bisa jadi- adalah jangan menjadi seperti dirinya! Jangan sekali-kali. Warisilah buah-buah gagasannya, pahami keresahaannya, belajarlah dari kesalahan-kesalahannya. Jangan kamu-kamu sekalian menjadi generasi tuli, yang pura-pura tidak mendengar keluhan sesama. Jangan kamu-kamu sekalian menjadi generasi buta, yang pura-pura tidak melihat kesukaran saudara-saudaranya. pemuda-pemudi dan semua yang selalu berjiwa muda dan menolak takut kepada mati, belajarlah dan setelah itu, bergeraklah!

Verba Volant Scripta Manent! Melalui goresan tinta dan berlembar-lembar tulisannya, Kartini tidak mati. Manusia adalah pikirannya, bukan jasadnya! Tubuh Kartini pergi, pikirannya abadi. Verba Volant Scripta Manent­-Apa yang diucap akan lenyap, Apa yang ditulis akan abadi!

2 Comments

  1. Gallant Tsany Abdillah April 29, 2018
  2. Heri heryanto May 1, 2018

Leave a Reply