Tret Tet Tet Pertama Persebaya di Kabupaten Italia

Kemenangan Persebaya

Kemenangan Persebaya

Per-se-ba-ya
Green force… Green force… oooooo……
Per-se-ba-ya
Green force… Green force… oooooo……

Nyanyian ratusan bonekmania memecah keheningan Stadion Maguwoharjo Sleman.. Saat itu berlangsung semifinal dirgantara cup 2017. Kompetisi ini adalah kompetisi pramusim pertama yang diikuti Persebaya setelah berpuasa cukup lama. Nyanyian dari Bonekmania menjadi pembakar semangat tim kebanggan Surabaya ini hingga mampu unggul 3 gol tanpa balas saat melawan Persibo Bojonegoro. Seolah sudah paham bahwa pasti masuk final, saat itu memang bonekmania yang hadir tidak sebanyak biasanya karena mungkin ingin hemat cuti kerja atau bolos kuliah mereka untuk menyaksikan final dirgantara cup yang digelar lusa…

Jawa Pos sebagai pengelola Persebaya Surabaya yang baru mengadakan Tret tet tet ke Sleman. Dengan biaya 350rb dan fasilitas yang biasa saja tentu cukup mahal, tapi untuk orang yang tidak mau ribet seperti saya… itu boleh lah.. apalagi titik kumpul ada di Graha Pena yang jaraknya hanya 5 menit dari rumah. 12 jam sebelum tret tet tet dimulai saya menelpon hotline untuk mendaftar.. namun jawabannya membuat saya tertawa. Tret tet tet dibatalkan karena banyak dikomplain bonek, biayanya dinilai terlalu mahal dan terlihat cuma mau ambil untung. Kejadian ini juga akhirnya di klarifikasi oleh pak presiden Persebaya mas Azrul yang mengatakan bahwa “Dukunglah persebaya sesuai kemampuan anda”. Tret tet tet adalah istilah yang dipopulerkan oleh Koran Jawa Pos yang artinya kurang lebih adalah Awaydays bareng bareng bonekmania mendukung Persebaya. Budaya tret tet tet dulu disubsidi oleh Jawa Pos yang saat itu menjadi pengelola Persebaya Surabaya hingga biayanya lebih murah.

Akhirnya saya berangkat estafet menggunakan bus menuju jogjakarta. Perjalanan dimulai jam 9 malam dengan berjalan kaki menuju ke bawah Flyover Wonokromo untuk menunggu bis kota yang akan membawa saya ke Terminal Purabaya. Bis kota di Surabaya tersedia 24 jam, kalau ada lyn yang bilang sudah tidak ada bis jangan percaya.. menurut saya bis kota 1000% lebih nyaman daripada lyn karena ada pendingin udara dan kursi yang empuk.

Bis Eka cepat membawa saya menuju jogjakarta… saya terlelap hingga sampai di Terminal Giwangan Jogjakarta. Saat itu jam 3 pagi, sudah ada beberapa bonekmania yang tiduran di terminal. Saya bergabung kemudian ngopi bareng hingga matahari sudah agak tinggi. Bonek asal pasuruan itu kemudian pamit untuk melanjutkan perjalanan menuju stadion maguwoharjo, meskipun pertandingan masih sore hari.. mereka harus berangkat karena harus ngamen agar bisa beli tiket pertandingan nanti sore….

Didalam Bus Transjogja

Didalam Bus Transjogja

Saya yang sendirian kemudian bergegas mandi dan berganti kostum jersey persebaya… saat sedang menunggu transjogja saya bertemu bonekmania yang juga sendirian… namanya Pak Darsono Bonek Kenjeran. Beliau meninggalkan pekerjaannya untuk melihat persebaya sampai final nanti. Kami akhirnya memutuskan untuk ngopi dulu di angkringan sekitar malioboro…Di malioboro rencanya saya akan bertemu konco kentel saya yang berinisial Dadang. Dia naik motor sendirian dari semarang.

Pak Darsono Melupakan Semua demi Persebaya

Pak Darsono Melupakan Semua demi Persebaya

Setelah dadang sampai di Malioboro, kami bertiga menuju ke Stadion Maguwoharjo Sleman. Dadang dengan motor sedangkan saya dan pak darsono naik transjogja. Untuk menuju ke Stadion Maguwoharjo harus beberapa kali ganti bus, petugas transjogja sangat ramah hingga menjelaskan secara detail bagaimana agar bisa sampai ke stadion..apa mungkin juga karena kita menggunakan baju hijau hijau hingga membuat si petugas ramah? haha..Dari halte terakhir kami harus berjalan kami sekitar 1Km agar bisa sampai stadion.

Stadion Maguwoharjo Sleman

Stadion Maguwoharjo Sleman

Stadion Internasional Maguwoharjo fasilitasnya lengkap, toilet dan mushollah lumayan bersih. Tiket yang digunakan juga dilengkapi barcode untuk mencegah kebobolan. Tempat parkir mobil dan motor yang disediakan juga lebih dari cukup. Saat akan masuk ke tribun tiket dipasang sebagai gelang dan di scan barcode. Nah jeleknya saat sudah masuk dalam stadion,sangat disayangkan fasilitas mushollah dan toilet tidak terawat sama sekali.

Aksesoris Persebaya

Aksesoris Persebaya

Sebelum pertandingan persebaya dimulai, ada laga Mojokerto Putera melawan Cilegon FC. Ibu ibu pedagang asongan berkeliling menjajakan dagangannya. Budaya jajanan stadion di Jawa tengah dan Jawa timur sungguh berbeda jauh. Tidak ada lumpia disini, mereka hanya menjual tahu dan arem arem. Sesungguhnya lumpia adalah kunci rahasia stamina suporter sepakbola. Sungguh ironis nasib kami bila harus berteriak dan bernyanyi lantang tanpa dorongan vitamin yang terkandung dalam lumpia… Uniknya di tribun untuk suporter persebaya ada bapak bapak yang membawa kopi se termos besar untuk dibagikan ke seluruh pecinta kopi…

Kopi Gratis untuk Bonekmania

Kopi Gratis untuk Bonekmania

Persebaya pun berlaga dan memenangkan pertandingan. Flare dinyalakan dan nyanyian bertambah kencang. Usai pertandingan seluruh pemain dan manajemen berdiri didepan tribun untuk ikut bernyanyi bersama. Dengan begini bonek akan merasa dihargai oleh manajemen dan tidak hanya dijadikan ladang mendulang rupiah saja.

Saya bergegas untuk pulang kembali ke Surabaya, meninggalkan bonek lain yang menantikan final lusa. Meskipun tidak ikut mengawal Persebaya sampai pulang menjemput piala, saya sangat bangga bisa menyaksikan kembali Persebaya berlaga. Dibawah Jawa Pos sebagai pengelola saya harap tidak ada yang usil terhadap tim kebanggaan arek arek suroboyo ini.

Terbanglah tinggi
Kau diangkasa
Tunjukan pada semua mata dunia
Surabayapun juga punya kebanggaan
Green Force Persebaya Emosi Jiwaku

Terimakasih Persebaya, Terimakasih Jawa Pos. Salam satu nyali. WANI

Leave a Reply

Select Language