Misteri Operasi SAR Vincent di Gunung Argopuro 2006 Bagian 3

Misteri Operasi SAR Vincent di Gunung Argopuro 2006 Bagian 3
oleh Edwindy Corbezt SAR OPA Jember

Ada cangkir di kawah ciceding

Masa-masa pencarian Vincent telah mendekati masa-masa terakhir standart pencarian orang hilang secara procedural namun tak banyak kemajuan yang kami dapatkan. hanya bekas bivak alam di kawasan rengganis yang mungkin mendekati kepastian bahwa itulah jejak survivor yang tertinggal. saat itu sudah hari ke 22 pencarian yang artinya tinggal 5 hari saja waktu tersisa dan operasi SAR di tutup berdasarkan prosedur yang ada. tak kurang lebih dari 100 personil sudah tercatat secara resmi sudah menjadi SRU dan semua rute-rute pencarianpun kini sudah penuh dengan stringline jalur pencarian yang tentunya menandakan kawasan tersebut sudah dijamah oleh tim pencari. dalam catatan saya pada saat itu sudah hampir 30 karvak yang tersisir namun tak jua keberadaan Vincent diketahui. tak ada sebuah tanda maupun temuan yang jelas selain analisa-analisa yang berakhir kebuntuan. mungkin hanya rute jalur selatan saja yang belum di jelajahi karena itu memang tak mungkin mengingat jalur selatan yang hancur total karena banjir dan tanah longsor bekas musibah banjir bandang di panti jember beberapa bulan lalu. dan rute turun dari sanapun tak satupun tertembus karena badai argopuro sedang menggila pada saat itu.

Malam itu semua staff SMC dan OSC mengadakan rapat untuk strategi pencarian terakhir. malam itu semua berkumpul di markas SMC di bremi memaparkan semua hasil temuan serta segala kemungkinan arah perjalanan survivor. beberapa kasus pendaki hilang di masa lalu juga di paparkan sebagai studi kasus tentang kecenderungan bergesernya arah perjalan survivor. malam itu analisa mengerucut pada dua wilayah yaitu kawah ciceding dan cemoro kandang sebagai arah alternative turunnya survivor (arah cemoro kandang merupakan jalan turun yang exstrim menuju kabupaten jember, sedangkan ciceding jika tidaksalah merupakan arah alternative turun menuju kawasan pantai utara yang jalurnya sudah tertutup dan sangat panjang sehingga sangat mustahil ditembus karena itu berarti membuka rute baru). sementara laporan dari tim yang menyapu kawasan belakang rengganis (jurang rengganis) menyampaikan tidak ada tanda-tanda survivor mengarah/atau menuruni jurang tersebut. begitu juga dengan penelusuran di seputaran kawasan gunung semar, disana tidak ditemukan jejak maupun benda-benda yang mencurigakan, sementara kawasan cekungan air yang mirip danau kecil di selatan danau taman hidup pun tak menyisakan sesuatu selain laporan bekas-bekas longsoran. dalam rapat tersebut selain dihadiri semua staff SMC, OSC, keluarga, rekan-rekan mahitala, juga dihadiri semua komendan komunikasi yang selama ini rajin mencatat laporan serta temuan yang tersampaikan lewat radio komunikasi. dalam rapat tersebut juga disampaikan bahwasannya batas standar pencarian tinggal 5 hari lagi dan segera di tutup. namun dalam rapat tersebut akhirnya pihak keluarga memohon untuk diadakan perpanjangan masa pencarian dengan segala beban kebutuhan tim pencari seperti logistic akan dipenuhi oleh pihak keluarga. akhirnya pada malam itu agenda rapat pun bertambah karena juga harus membicarakan penambahan masa pencarian, dan pada saat itu SMC menyetujui untuk menambah masa pencarian selama kalau tidak salah 1 bulan lagi mengingat permohonan keluarga untuk menemukan survivor dalam kondisi apapun. malam itu pula keluarga menjajikan akan memberikan bantuan genset untuk keperluan tim yang di atas (kantor OSC di cisentor) , pihak keluarga pada saat itu juga kalau tidak salah juga menyediakan telepon satelit seingat saya, bahkan bilamana survivor ditemukan maka proses evakuasi akan menggunakan heli carteran. sementara untuk kebutuhan logistic serta porter untuk suplai logistic juga akan ditanggung pihak keluarga.

Setelah menyepakati hal tersebut bahasan berikutnya adalah menyusun strategi pencaian berikutnya. beberapa kawasan yang akan di telusuri adalah kawasan-kawasan seperti cemoro kandang, landingan sampai kawah ciceding dan kawah-kawah lainnya. karena ring pencarian yang telah melebar maka strategi pencarian kali ini menggunakan strategi flying camp dimana SRU akan melakukan penyisiran dalam waktu 2-3 hari dengan skenario bermalam di tengah jalan. setelah targetan-targetan telah di susun maka berikutnya SMC meliburkan SRU selama 1 hari sambil melaksanakan pendistribusian logistic yang dijanjikan pihak keluarga. keesokan harinya puluhan porterpun segera bergerak membawa beras, abon, sarden, genset serta semua kebutuhan kebutuhan lainnya termasuk antenna pengarah yang akan di pasang di cisentor karena komunikasi selama ini memang sulit dan harus di relay tidak bisa langsung dari lokasi ke kantor SMC, bahkan tak jarang kami harus minta bantuan masyarakat pengguna radio amatir untuk meriley laporan yang disampaikan dari lapangan untuk SMC di bremi. kala itu memang ada skenario pencarian di perbesar mengingat jumlah logistic yang di kirim juga sangat banyak bahkan mungkin inilah operasi SAR terbesar yang pernah digelar dalam skup pencarian orang hilang di gunung.

Setelah mendapatkan libur satu hari sambil menunggu datangnya personil tambahan yang tentunya tenaganya masih fres maka pada lusanya OSC pun segera memberangkatkan SRU yang ada. masing-masing SRU pun membawa perbekalan logistic dan peralatan pribadi lengkap untuk minimal 3 hari pencarian berikut peralatan evakuasi, sehingga tidak ada personil yang saat itu berjalan dengan membawa daypac. semua personil membawa carrier yang tinggi menjulang karena harus disesaki alat-alat RC, alat masak, tenda dan tentu saja bahan makanan. 2 SRU pun langsung diluncurkan menuju cemoro kandang dan kawah lama. mereka berangkat pagi-pagi menyusuri semak-semak yang mulai menutup yang penuh dengan tumbuhan jingkat KHAS argopuro yang terkenal dapat menimbulkan rasa panas tersengat bila disentuh. saya masih ingat saat itu banyak personel yang pulang dengan baju compang-camping tersayat duri dan semak, bahkan kami harus menyiapkan suplai baju bekas layak pakai dari bawah untuk baju ganti mereka, karena jangankan baju, geiter yang berbahan mirip terpal saja bisa hancur tercacah semak yang menutup jalur-jalur tersebut. dari penyusuran di kawah aktif 1 dan 2 tidaklah memberikan laporan yang menggembirakan karena tim tak menemukan jejak sedikitpun disana, sementara itu tim yang bergerak menuju cemoro kandang dan landingan juga tak menemukan sesuatu selain jalur yang sudah mulai tertutup karena hampir tak pernah dilewati oleh pendaki. skenario pencarian kesana diambil mengingat dulu tahun 90-an seingat saya ada 2 pendaki yang di temukan tersesat di jalur itu.

Berita yang sedikit menggembirakan adalah dari SRU yang menyisir kawasan kawah mati dii CICEDING, di sana ditemukan sebuah cangkir yang dicurigai merupakan milik survivor berita ini pun segera di relay ke OSC Karena dari lokasi pencarian berita tak bisa langsung ke OSC namun harus di relay dahulu. dengan temuan tersebut maka OSC memutuskan mengirimkan tim tambahan mengejar ke arah tersebut. tim tambahan pun segera di berangkatkan tanpa menunggu tim awal pulang dan pengejaran jejakpun secepatnya dilakukan. hari itu jika tidak salah sudah mendekati akhir-akhir pencarian seingat saya entah di hari tambahan keberapa saya lupa. tim pertama telah kembali dan kurir utusan pun segera di kirim, sementara di cisentor suasana kini menjadi hingar-bingar karena telah ramai tenda-tenda tim pencari yang jumlahnya seperti perumahan di kampung, hal ini juga ditambah dengan adanya genset yang mampu mensuplai listrik untuk penerangan serta jaminan bagi alat komunikasi untuk tetap on. kala itu hiburan paling mewah adalah mendengarkan suara lagu-lagu yang direlay melalui alat komunikasi ditambah suara adik-adik cewek dari mapala yang memberikan hiburan dengan mengajak ngobrol teman-teman yang ada di cisentor di saat malam. keesokan harinya cangkir telah berada di markas SMC dan segera diidentifikasi. hasil identifikasi oleh pihak keluarga maupun rekan-rekan mahitala menyatakan bahwa itu adalah cangkir survivor. sehingga pada saat itupun pengejaran dioptimalkan menuju kawasan seputar ciceding meskipun pada saat itu kawasan ciceding dilanda badai hebat yang bahkan sempat membuat salah satu teman kami jadi ketakutan karena saking kerasnya angin yang bertiup. bahkan saat harus melipir/menyusuri tepian tebing tim saat itu hanya bisa pasrah berhenti sambil berpegangan berharap tidak dihempaskan angin ke jurang karena saking kerasnya angin bertiup. argopuro pada saat itu memang sedang ganas-ganasnya seiring pengaruh badai billy dari Australia sehingga badai dengan angin super kencang dan hujan lebat selalu menimbulkan kengerian tersendiri bagi tim yang di lapangan, hal ini belum lagi jarak pandang yang pendek karena kabut serta suara angin yang seperti gemuruh suara knalpot pesawat tempur cukup membuat kami hanya bisa pasrah menunggu cuaca membaik daripada berbuat konyol dalam cuaca demikian. mungkin teman-teman ex argo yang saat itu dihajar badai masih bisa mengingatnya karena dengan tubuh basah kuyub saat itu sudah tidak ada kesempatan lagi mendirikan tenda (kami pikir tenda pasti terbang sebelum sempat ditempati mengingat kencangnya angin saat itu).

KAMI HARUS PULANG DAN MENUTUP OPERASI TANPA HASIL

Banyak hal mengapa tim pencari tak dapat menemukan vincent. hal pertama yang harus diingat, kawasan argopuro merupakan kawasan yang sangat luas karena ada lebih dari 10 puncak disana meski hanya 2 puncak saja yang lazim dikunjungi dengan jalur yang jelas terlihat. sementara beberapa lainnya kerena jarang dikunjungi maka jalurnya pun sudah tertutup. hal inilah yang membuat tidak cukup waktu pencarian normal untuk ops. SAR vincent. sementara hanya bisa dihitung dengan jari orang yang khatam semua kawasan argopuro. berikutnya panduan vincent yang berupa buku hyang plateu merupakan panduan jalur yang amat jadul bahkan mungkin beberapa jalur telah lenyap karena perubahan kontur. hal ketiga adalah kondisi argopuro saat itu yang sedang mengalami banyak longsor dan banjir sehingga tidak menutup kemungkinan korban bisa saja terjebak longsor atau banjir. hal berikutnya vincent melakukan itu sendirian. dengan targetan seperti itu (mencari rute jadul) selayaknya mengajak yang khatam dan telah kenal medan akan lebih bijak. sedangkan hal terakhir (ini bersifat percaya tidak percaya) adalah argopuro merupakan kawasan sakral karena disana banyak cagar budaya dan situs, setahun yang lalu sekawanan pendaki tidak bisa turun dan hanya berputar-putar tak menemukan jalan selama 5 hari karena membawa 3 mustika dari puncak rengganis. saya kira dalam menyikapi hal ini ada baiknya kita dewasa yaitu tidak mengambil, merusak maupun bersifat sombong menghadapi alam. dunia lain itu ada seperti di tuliskan dalam semua kitab agama, ada baiknya kita bersikap sopan dan tidak saling mengganggu. pertanyaan besar kenapa vincent masih tersesat meskipun berbekal GPS adalah yang pertama mungkin tidak tersedianya map pendukung bagi GPS tersebut, kondisi baterai yang terbatas maupun seringnya kabut dan badai di argopuro menyebabkan alat tersebut tidak berfungsi. sementara untuk sinyak Hp memang di beberapa kawasan terdapat sinyal namun bagi orang yang baru pertama kesana tentunya tidak akan tahu dimana lokasi-lokasi tersebut (2 pendaki dari surabaya yang tersesat dulu pernah berhasil kami temukan selamat karena masih mampu ber-SMS dengan menunjukkan ciri medan pada kami). mungkin itu jawaban dan analisa yang bisa saya berikan dan besok saya akan mengulas beberapa pelajaran berharga dalam kasus ini

Salam hangat bagi para petualang indonesia

Leave a Reply

Select Language