Misteri Operasi SAR Vincent di Gunung Argopuro 2006 Bagian 2

Misteri Operasi SAR Vincent di Gunung Argopuro 2006 Bagian 2
oleh Edwindy Corbezt SAR OPA Jember

Membelah Rute Jaman Kolonial 2

Hari demi hari telah terlewati, kabar hilangnya Vincent pun telah tersebar di segala penjuru dunia pendakian. pencarian pun masih terus dilaksanakan dan personil pun terus berdatangan dari segala penjuru. pencarian tahap pertama menyusuri rute-rute jadul kolonial terus dilaksanakan. targetan kali ini adalah mata air panas argopuro seperti yang tertulis dalam buku hyang plateu, memang kawasan ini saat itu tiba-tiba menjadi hangat dibicarakan oleh beberapa tim analisis menginggat posisi mata air panas juga berada di sekitaran dimana korban terakhir di lihat. beberapa SRU pun segera di luncurkan menuju koordinat yang dimaksud. SMC yang pada saat itu dikendalikan oleh Alm. Sancos (meninggal sepulang tugas jadi SMC dalam perjalanan ke bali) pun terus berkerja mengurai hasil-hasil temuan yang ada. sementara itu pihak keluarga korban pun sudah mulai datang di kantor SMC di bremi. segala usaha untuk mengetahui keberadaan survivor saat itu dilakukan dengan berbagai cara dari yang masuk a,kal hingga yang tidak masuk akal. dari sisi psikologis memang ini perlu bagi keluarga agar tetap tenang namun tidak demikian bagi tim pencari. kehadiran beberapa SARKUN (SAR DUKUN) begitu teman-teman menyebutnya mulai merepotkan tim, ya merepotkan manakala saran-saran SARKUN mulai mempengaruhi skenario pencarikan. bahkan konsentrasi tim pun mulai terganggu manakala diminta membawa ayam, jeruk dan piring dan berbagai hal klenik, belum lagi bilamana para SARKUN minta diantar ke atas. kondisi tim pada saat itu pun sedikit frustasi, bahkan beberapa analisa pun harus berubah total karena saran-saran SARKUN yang tak tahu dasarnya apa.




Kembali pada pencarian di mata air panas. tim pencarian pun segera menyusuri semua air panas yang ada baik itu air panas yang ada di kawah-kawah maupun aliran sungai. sore setelah pencarian semua hasil pengamatan maupun temuan pun laporkan oleh OSC kepada SMC untuk di analisa. hasil observasi tim yang menuju mata air panas kala itu tidak menemukan hal yang berarti selain beberapa titik longsoran karena kala itu longsor dan banjir menjadi hal sangat wajar di argopuro bahkan air panas yang berada aliran sungaipun telah tertutup longsor. beberapa spekulasi mulai berkembang dari hasil laporan SRU di mata air panas yang diantaranya berupa analisa Vincent terkubur longsoran atau terbawa banjir ketika mencari mata air panas. namun ini kembali menjadi tanda Tanya terutama bagi saya, apakah senekat itu Vincent? Vincent bukanlah pendaki yang tahu medan argopuro, meskipun dia memegang buku hyang plateu pertanyaannya adalah apakah ia cukup punya nyali mencari rute-rute jadul sendirian. seorang peneliti kawakan pun tak akan melakukan hal ceroboh seperti ini. mereka biasanya menyertakan tim back-up maupun porter serta beberapa sumber yang biasanya dari masyarakat setempat, namun di sini Vincent hanya sendiri. Vincent yang mahasiswa S2 saya rasa pun tidak akan melakukan single riset untuk argopuro yang asing dan luas meskipun dia membawa buku hyang plateu dan GPS. memang Vincent membawa GPS namun bukankah GPS hanya sebuah alat dengan berbagai keterbatasan mulai kapasitas baterai terbatas atapun sinyal yang kadang tiarap bila kabut datang dan badai menerjang. penggunaan GPS tanpa pengetahuan kawasanpun menjadi suatu yang percuma menurut saya bahkan mungkin dapat membahayakan. orang yang tak tahu kawasan tentunya ketika tersesat dengan GPS di genggaman berusaha mencari nama tempat terdekat yang termonitor dalam alat itu. dan bagi mereka yang tidak paham kawasan pasti akan menerjang apa saja untuk sampai di tempat yang ditunjuk GPS tanpa memperdulikan jarak, keamanan jalur, maupun keperluan logistic. saya lebih senang dengan analisis demikian karena menurut saya ini hal yang paling logis bagi saya bila melihat kekuatan logistic yang terbawa. kala itu analisa saya adalah Vincent menuju puncak karena yang di bawa hanyalah daypack, GPS, kamera dan tripot, namun itu hanyalah analisa karena tetap saja surut mengingat Vincent yang tak tahu medan sama sekali. bisa saja ia tidak ke puncak namun ke tempat lain dengan membawa peralatan minimalis karena tidak memperhitungkan jarak dan kebutuhan logistic. ya sepertinya semuanya akan kembali pada satu simpulan, Vincent hilang karena belum pernah sama sekali ke argopuro namun berniat melakukan hal besar yang parahnya itu dilaksanakan sendiri.

Kawasan puncak argopuro, rengganis dan mata air panas telah di susuri dan berikutnya tim merujuk pada kawasan lain yang dicurigai menjadi sasaran korban. beberapa kawasan yang juga ada dalam buku jadul tersebut adalah kawasan gunung semar dengan punden dan arcanya, kawah ciceding, cemoro kandang serta beberapa kawasan lainnya yang tentunya sulit ditempuh karena jalurnya kebanyakan sudah menutup dan sekiranya harus kesana tak mungkin hanya membawa peralatan minimalis. kecurigaan lanjutan adalah ketika ditemukan bekas bivak alam berupa tumpukan rumput serta bekas sepatu dan batang korek api di seputaran puncak rengganis, saat itu analisa mengarah bahwa korban disinyalir telah menjamah kawasan itu serta sempat istirahat disana. dengan penemuan tersebut pun tim langsung bergerak termasuk mencoba menuruni tebing di dekat sana tempat menuju goa macan. namun pencarianpun masih menghasilkan sesuatu yang kosong, kecuali jejak-jejak yang masih belum jelas peninggalan siapa. kembali pada masalah analisa, jika tidak salah saat itu sudah 14 karvak yang telah dijalajahi. metode pencarian memang menggunakan acuan karvak atau sebuah bidang kotak pembagi bujur dan lintang dalam peta kontur. biasanya metode pencarian untuk kawasan luas seperti di argopuro menggunakan metode obat nyamuk yaitu menyisir melingkar dan terus membesar dalam radius karvak tempat terakhir korban di jumpai. metode ini memang melelahkan mengingat luasnya cakupan wilayah yang akan disisir. metode ini dipakai bilamana medan pencarian berupa hamparan medan luas dimana peluang menerabas semau kawasan mungkin dilakukan survivor. namun metode ini justru memboroskan tenaga bilamana diterapkan pada medan pencarian jalur tunggal seperti kawasan puncak semeru mengingat peluang survivor bergerak liar ke semua penjuru sangat kecil. hal ini terjadi karena tipe medan dimana ketika orang sudah tersesat tiada pilihan lain selain mengikuti alur punggungan atau alur jurang yang ada. makanya di semeru pencarian selalu menggunakan metode blok atau pengejaran jejak karena memang bila tersesat dari arah puncak kebanyakan survivor tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti alur kontur dan bergerak terus kebawah, (sketsanya menyusul ya). nah untuk pencarian dengan metode lingkaran bilamana ingin dilakukan cepat otomatis jumlah personil harus banyak, maka tidak heran bilamana dalam pencarian Vincent jumlah personil yang dilibatkan sangat banyak sampai-sampai cisentor jadi mirip kampung pendaki. pencarian ini adalah operasi SAR terbesar yang pernah berlangsung dalam skala pencarian orang hilang, terlama karena ada penambahan waktu dari 27 hari yang jadi standart pencarian, dan termegah karena mengeluarkan cost yang besar untuk suplai logistic dll. karena SAR gunung agung yang menggunakan heli Basarnas hanya kebetulan saja karena basarnas habis menggelar latihan di sanur, itupun operasional heli tidak total karena hanya memenitor dan muter-muter saja. maklum bensin heli kan ga bisa pake IREX.

Bersambung ke Misteri Operasi SAR Vincent di Gunung Argopuro 2006 Bagian 3



Leave a Reply

Select Language