Misteri Operasi SAR Vincent di Gunung Argopuro 2006

Misteri Operasi SAR Vincent di Gunung Argopuro 2006
oleh Edwindy Corbezt SAR OPA Jember

Ops. SAR VINCENT di Gunung ARGOPURO

Beberapa minggu terakhir pada pada januari 2006 personil SAR sangat disibukkan oleh kegiatan penanganan bencana di beberapa wilayah. Tercatat pada saat itu hampir semua kawasan pegunungan argopuro mengalami longsor dan banjir di beberapa sisi, sementara di banjarnegara tanah longsor juga melanda. Menyikapi kondisi siaga bencana saat itu tak mengherankan bilamana radio komunikasi selalu menyala siang dan malam. Saya agak lupa saat itu awal datangnya berita hilangnya vincent di gunung argopuro. Hanya kabar singkat bahwasanya seorang mahasiswa universitas parahiyangan hilang di pegunungan argopuro setelah treking di alas purwo. Beberapa pertanyaan awalpun muncul pada saat itu yang diantaranya masih menjadi misteri adalah bukankah kawasan argopuro ditutup menyusul longsor dan banjir bandang yang melanda lereng-lerengnya. Nah lantas bagaimana bisa seorang pendaki bisa masuk kawasan terutama melakukan pendakian solo terlebih membawa misi eksplore dengan referensi buku cetakan belanda the hyang plateu. Apa gerangan yang vincent cari, kemana sasaran yang hendak di tuju dan rute mana yang diambil. Beberapa sesepuh gunung argopuro pun waktu itu sibuk dengan berbagai analisis serta pengalaman-pengalaman menyusuri rute pendakian terpanjang di pulau jawa ini.
Malam itu brefing singkat diadakan. Peta segera di buka, dan catatan serta bukti awal korban dikumpulkan guna analisis awal pergerakan. Info terkini adalah rombongan pendaki terakhir sebelum penutupan kawasan (rombongan SMA) mengatakan berpapasan dengan korban di base camp sebelum menuju puncak. Dari situpun semuanya dilacak. Pihak pendaki SMA pun dijadikan saksi kunci sebagai orang terakhir yang berpapasan dangan korban. Tak luput pula kala itu buku the hyang plateu dikupas habis-habisan. Jalur-jalur dan beberapa kawasan yang disebutkan disana pun dianalisis satu-persatu. Koordinat-koordinat pun dirangkai mengingat riwayat pendaki yang belum pernah menginjakan kaki di argopuro serta bekalnya yang hanya sebuah buku kuno yang tentunya berisi tuntunan perjalanan dengan jalur kuno berikut dengan bahasa belanda yang terasa asing. Beberapa alumni pun berdatangan sebagai wujud simpati terlebih mereka merasa memiliki jam terbang tinggi di kawasan dengan banyak puncak ini. Bahkan SRU yang dulu pernah melakukan Ops. Di argopuro yang berhasil menemukan 2 pendaki asal kalimantan pun didatangkan guna menganalis jalur-jalur mana yang sering menjadi pangkal tersesatnya pendaki. Setelah semua analisis rampung komandan SAR saat itu pun langsung membentuk tim advance yang bertujuan mendata TKP serta mengiventarisir barang-barang peninggalan korban yang ada di seputaran TKP. Tim advance merupakan tim kecil berjumlah 4-6 orang yang hanya bertugas mengadakan analis lapang awal serta pendataan terhadap jalur terakhir dimana korban dilihat. Tim advance tidak bertangungjawab melakukan pencarian meski tidak jarang mereka dapat menemukan korban saat olah TKP namun tugas utama mereka adalah melakukan pendataan awal guna menaksir kondisi lapang, kebutuhan personil, kebutuhan logistik serta peralatan selama operasi.

(MENELUSURI JEJAK KOMPENI DI ARGOPURO)

Membelah rute jaman kolonial bagian 1

Pegunungan argopuro merupakan pegunungan yang unik. sisi unik pertama adalah inilah kawasan pegunungan yang begitu luas hingga kawasanya meliputi 4 kabupaten di jawa timur. seperti halnya tipikal gunung jawa timur lainnya argopuro memiliki kesan tersendiri di mata para pendaki. memang mendaki argopuro dari sisi skill seperti RC tak seberapa di butuhkan bilamana kita melewati jalur normalnya, (beberapa jalur khususnya dari lereng selatan mutlak di perlukan) namun tantangan argopuro di jalur normal pun dirasa sudah cukup memacu adrenalin dan mampu mengasah skill seorang pendaki. seperti kita tahu bahwasannya tentara sekelas marinir pun menjadikan rute ini sebagai sarana penggemblengan para siswanya dalam rangka mendapatkan brefet seperti jungle survivor. sisi lainnya perjalan yang ditempuh hanya untuk menyambangi 2 puncak di pegunungan ini kurang lebih 5-6 hari untuk perjalan normal (saya lebih suka memaparkan data perjalanan normalnya karena kalo memaparkan data perjalanan cepatnya kok rasanya seperti orang sombong yang haus rekor, meski ada beberapa klaim pendakian tercepat disana.). berikutnya adalah jumlah puncaknya yang lebih dari 7 puncak gunung serta 3 kawah aktif serta beberapa kawah mati dan beberapa danau. argopuro sendiri seperti yang tertulis dalam buku The Hyang Plateu memiliki beberapa kawasan purbakala, mulai situs arca, punden, petilasan, hingga beberapa bekas pondasi seperti padepokan atau entah apa namanya.

Kembali pada kisah pencarian Vincent. tim advance yang terdiri dari 4 orang saat itu bergerak cepat menuju TKP. saat itu kondisi sedang hujan dengan suhu ekstrim dan tentunya badai di beberapa lokasi. tim terus bergerak. tim ini berisi orang-orang yang memiliki jam terbang yang sangat tinggi. mereka terus bergerak menggingat kepastian tentang hilangnya Vincent masih belum dapat dikatan info yang valid bilamana belum ada laporan dari tim advance. berita kepastian ini pun tentunya juga menjadi tanda Tanya bagi teman-teman mahitala yang sejak kemaren telah on air di canal radio SSB menunggu berita terbaru sebelum mengirimkan personelnya dan mengerahkan bantuan. tim bergerak dalam badai memecah malam. seperti biasa dan berdasarkan pengalaman pula. tim ini bergerak dengan perlengkapan yang minimalis guna memepercepat pergerakan. mereka bergerak dengan bekal (waktu itu saya, ceklis perelengkapan di posko) senter anti air, raincoat (argopuro memiliki hutan hujan basah yang bila didaki pada musim hujan anda pasti bisa keturutan berbasah-ria selama seminggu). logistic ringan berupa mie dan gabin (anak jawa timur biasa melakukan pendakian dengan logistic mie, ikan asin, sambal, roti gabin dan beras, jadi anda yang terbiasa tertib dengan manajemen ekspedisi mohon ini jangan ditiru karena bisa bikin anda busung lapar). perlengkapan berikutnya adalah kompor lapangan mini berbahan bakar spiritus yang dibuat dari kaleng minuman (made in sendiri). parang, webbing dan carrabiner. baju pun mereka hanya membawa 1 stel yang terpakai saja plus jaket, geiter dan 2 buah Sleeping Bag tandem serta HT yang terpancar pada dial yang disepakati dengan interval laporan tiap jam genap. berita berkaitan kondisi cuaca, medan serta posisi koordinat pun terlaporkan secara up date, maklum mereka cukup hafal dengan medan bahkan sampai cirri vegetasi dimana mereka berhenti (mis; tim melapor bahwa sedang di hadang badai di pohon besar berakar gantung antara mata air satu dan dua) dari berita tersebut komendan komunikasi pun segera mencatat dan berikutnya segera di terjemahkan oleh staf SMC dalam bentuk koordinat yang kemudian di relay ke markas teman-teman mahitala di bandung. sesampai di TKP tim segera mengidentifikasi kondisi lapang. semua jejak yang tertinggal segera di dokumentasikan baik itu jejak sepatu, sampah yang tertinggal dan ditemukan selama perjalanan maupun benda yang pasti peninggalan korban berdasar rekam barang bawaan yang diinfokan rekan dari mahitala. tempat-tempat penemuan benda yang dicurigaipun segera di beri penanda yang lazim disebut marker.
Esok harinya tim pun kembali turun dalam tempo kurang dari 24 jam tentunya. semua data pun dianalisa. dikumpulkan satu persatu. barang-barang yang telah fix merupakan milik korban disendirikan dan kemudian dilaporkan bahwa info telah A1 (valid).

Tim pun mengabarkan kepada teman-teman mahitala dan menyatakan bahwa Ops. SAR di peg. Argopuro dibuka dengan nama SAR Vincent Argopuro. berita pun segera di sebar ke semua secretariat pecinta alam untuk menggalang kekuatan personil SAR. tercatat beberapa Organisasi turun dari seluruh tanah jawa, SRU pertama segera di berangkatkan dan struktur organisasi baru pencarian di buat, saya lihat mungkin ini Ops. SAR paling rapi karena semua Pos ada dan lengkap, mulai bagian perlengkapan, pendataan personil, logistic sampai peralatan semuanya ada bahkan semua personil yang terlibatpun terdaftar dalam list serta dilengkapi form E-SAR pada waktu itu. saya masih ingat SRU pertama di berangkatkan untuk menyisir arah puncak argo dan puncak rengganis karena itu merupakan target paling popular pendakian argopuro. semetara tim analisis pun menyiapkan skenario arah pencarian dari data yang ada (buku hyang plateu, kesaksian kelompok pendaki SMA, serta jejak paling logis yang terakhir teridentivikasi). kecurigaan berikutnya setelah kawasan puncak dilaporkan nihil perkembangan adalah kawasan-kawasan yang terekam dalam buku yang menjadi panduan Vincent. kawasan kawasan mulai yang familiar di dengar hingga kawasan abu-abu (kawasan yang sengaja disembunyikan atau di tutup untuk menghindari rusaknya kawasan argopuro) mulai diinventarisir. kawasan kawasan tersebut tentunya memiliki rute yang juga sudah abu-abu karena jarang sekali di lewati serta hanya di ketahui beberapa orang saja karena merupakan rute jadul produk colonial. kawasan pertama yang di telusuri adalah kawasan alun-alun kecil (alun-alun lonceng) kawasan itu segera disisir meski akhirnya tak ditemukan apa-apa. kawasan kedua yang di telusuri adalah rowo mbik disana pun tidak ditemukan jejak dan beikutnya kembali pada kawasan puncak rengganis karena jika mengacu pada buku yang dibawa besar kemungkinan Vincent terobsesi dengan cagar budaya yang ada. namun hasilnya pun masih nihil.

Bersambung ke Misteri Operasi SAR Vincent di Gunung Argopuro 2006 Bagian 2

Leave a Reply

Select Language