Mengenal Hipotermia : Gejala dan Pertolongan Pertama Korban Hipotermia

Hipotermia adalah ancaman utama untuk pendaki di musim hujan. Kenali gejala awal hipotermia yaitu perubahan fungsi saraf harus diketahui para pendaki. Pertolongan pertama yang diberikan menjadi lebih efektif pada korban hipotermia tahap awal. Perlengkapan anti hujan, selimut insulator (survive bivy berbahan mirip aluminium foil) menjadi perlengkapan wajib pribadi para pendaki sebagai salah satu p3k.

Setidaknya ada 28 kasus musibah besar yang terjadi di gunung tahun 2015 lalu . Kasus banyak terjadi pada bulan Desember hingga Februari ketika curah hujan juga tinggi. Ini sangat berbeda dengan jumlah kasus selama musim kemarau antara April sampai September. Ditemui 3 kasus akibat gas beracun, 1 gantung diri, 1 cedera berat, 3 akibat penyakit medis yang sudah diderita sebelum pendakian, dan 18 kasus yang diduga karena hipotermia. Kasus hipotermia ini sangat jarang diberitakan sebagai penyebab kematian di gunung. Yang diberitakan selalu akibat cuaca dingin, kelelahan, dan kondisi tidak fit. Menurut ilmu kedoteran, penyakit yang dapat berakibat fatal di gunung antara lain penyakit akibat cuaca ekstrim ( Hipotermia termasuk), penyakit gunung akut (Acute Mountain Sickness/ AMS), Hipoksia (kurang oksigen)  dan cedera.

Apabila dilihat dari ilmu kedokteran, sangat tidak mungkin terjadi penyakit gunung akut di gunung Jawa ini karena penyakit ini dimulai pada ketinggian di atas 3000 an. Hipoksia akut juga kurang dimungkinkan karena penurunan kadar oksigen pada ketinggian 3000 an dapat dikompensasi oleh tubuh kita, pengecualian pada area dengan gas beracun tertentu dan pada pendaki yang sudah memiliki penyakit sebelumnya. Oleh karena itu, hipotermia dan gas beracun lah yang menjadi ancaman utama para pendaki di Jawa. Meski tidak mencapai suhu minus derajat celcius, pendaki bisa mengalami penyakit hipotermia karena kegagalan mencegah kehilangan panas tubuh akibat faktor kelelahan fisik dan pakaian basah karena hujan.




Mengenali Gejala Penyakit Hipotermia
Cukup mudah mengenali gejala hipotermia , biasanya korban sebelum meninggal akan mengalami gejala kelelahan, sesak nafas, mengantuk, sakit kepala, muntah muntah.

Contoh Gejala Hipotermia yang bisa dilihat orang adalah :

  • korban mulai kesulitan bicara
  • bicara seperti terbata bata atau gagap
  • bicara pelo
  • hilang ingatan
  • terlihat apatis atau tidak reaktif menanggapi keadaan sekitar
  • suka memandang jauh

Nah oleh karena itu selalu ajak bicara teman kita yang terlihat kelelahan. Jika ada perubahan bicara dan kepribadian, saat itu juga lah korban harus istirahat dan segera dilakukan penanganan pertama. Seringkali karena sudah capek, biasanya pendaki jarang berbicara satu sama lain apalagi dalam cuaca buruk. Sayang sekali umumnya pendaki baru bisa mengenali kondisi hipotermia saat korban mulai terlihat sesak nafas. Kesulitan dalam bernafas ini terjadi ketika suhu inti tubuh menjadi 33 °C. Suhu ini makin dekat dengan suhu di mana tubuh sudah tidak mungkin menghasilkan panas dari dalam (suhu 31 °C). Jika ini terjadi, tindakan pertolongan pertama sudah sukar menolong korban karena pertolongan dengan menyelimuti korban hanya mampu mencegah kehilangan panas tanpa menambah panas berarti.

Bahaya penyakit hipotermia yang harus diketahui pendaki :

  • Kondisi otot jantung yang mudah memunculkan gangguan irama detak jantung
  • Dehidrasi atau kurang cairan tubuh. Ini banyak dialami pendaki karena suhu dingin membuat malas minum teratur meski keringat keluar selama pendakian. Hasil dari malas minum adalah dehidrasi.
  • Kulit, jari – jari tangan dan kaki jauh lebih dingin dibanding suhu biasanya

Pertolongan Pertama Korban Hipotermia :
Penanganan pertama yang harus dilakukan untuk korban hipotermia adalah :

  1. Segera mengganti pakaian basah dengan yang kering
  2. Pakaikan Sleeping Bag
  3. Tempatkan botol berisi air panas di bagian ketiak, selangkangan, dan leher
  4. Lapisi lagi korban dengan selimut insulator (emergency blanket)

Saat penderita hipotermia yang tidak sadar atau terbaring lemah, lebih baik posisikan dalam posisi mendatar untuk mencegah memburuknya kondisi jantung. Selama proses evakuasi / menggotong korban hipotermia harus hati hatai untuk meminimalisir pergerakan anggota tubuh dengan cara mengikat anggota tubuh tangan dan kaki ke badan. Hal tersebut juga akan mencegah aliran darah dingin dari permukaan tubuh menuju inti tubuh. Selain itu pijat tidak dianjurkan. Selama masih sadar, korban harus tetap diberi minum untuk menjaga cairan dalam tubuh. Apabila  korban penyakit hipotermia masih sadar, jangan biarkan korban tertidur atau tidak sadar karena selama tidur maka produksi panas dalam tubuh akan berkurang. Lebih baik membiarkan korban menggigil karena menggigil adalah proses pertahanan diri tubuh untuk menghasilkan panas. Ingatlah jangan gunakan minuman ber alkohol untuk menghangatkan hipotermia karena bisa membuangan panas dari tubuh akibat pelebaran pori-pori kulit.

 






Leave a Reply

Select Language