Teknik Berjalan Saat Mendaki Gunung

Teknik Berjalan Saat Mendaki Gunung
Teknik Berjalan Saat Mendaki Gunung

Teknik berjalan memang sangat penting bagi penggiat
alam terbuka.. Kita harus mengenali dengan benar kondisi kita masing-masing
dan kebiasaan-kebiasaan kita.. Tahu kapan saatnya istirahat dan kapan saatnya untuk
push to the limit. Mendaki gunung tidak pernah lepas dari beberapa mitos yang
beredar. Saya pribadi tidak terlalu percaya, tapi beberapa kali saya buktikan
ini terjadi. Mitos dalam berjalan itu seperti jangan mengeluh capek atau
menghina hina tanjakan di depan,jangan membuka carrier ketika beristirahat
kurang dari 5menit,jangan memegang dengkul/paha selama berjalan ataupun istirahat,serta
yang terakhir yang paling konyol,minumlah air asli gunung tersebut,karena lebih
mampu menghilangkan dahaga dan capek.. Boleh percaya boleh tidak. Tapi selama
kita menjaga sikap dan mengerti arti dari tujuan perjalanan kita,Tuhan pasti
melindungi.. Karena hanya di alam lah,seseorang bisa merasa lebih dekat dengan
penciptanya.
Berikut ini adalah teknik berjalan yang mungkin bisa menjadi pedoman dalam
melakukan pendakian gunung.

– Langkah pertama jelas paling berat, jadi usahakan
santai dulu. Beberapa langkah lalu berhenti, jalan lagi, berhenti. Pokoknya
panaskan dulu “mesin” hingga tubuh siap beradaptasi dengan beban,
medan, kekuatan fisik.
– Pandangan 1-2 meter aja ke depan/bawah , jangan menyapu pandangan ke depan
terus. Secara psikologis akan mengurangi rasa down akibat melihat jalur
menanjak di depan
– Manfaatkan selalu akar dan batang sebagai pegangan. Cari yg aman dan terlihat
kokoh.
– Usahakan posisi telapak kaki lurus kedepan untuk memperkecil resiko cedera
akibat otot melintir
– Sebaiknya pakai sepatu treking yang bagian depannya masih ada space sekitar 2
jari supaya ketika kita turun, jari-jari kaki tidak langsung mengenai bagian
depan sepatu yang dapat menyebabkan lecet dan sakit pada jari kaki
– Tidak ada salahnya pakai tongkat trekking/trekking pole harganya sudah tidak seberapa
mahal dan berguna buat membantu dengkul waktu nanjak, bisa juga jadi tiang
bivak darurat, alat safety (siapa tahu ketemu babi hutan, bisa buat jaga diri)
– Sebaiknya kecepatan konsisten dan stabil dengan langkah – langkah kecil.. Pelan
– pelan tidak masalah asal tetap stabil sebagai contoh untuk pendakian Gunung
Penanggungan via Tamiajeng… trek dari Pos 1 ke Puncak Bayangan cukup stabil
sehingga langkah kaki harusnya bisa konsisten . Langkah kaki perlahan stabil
terbukti lebih efektif karena memberikan waktu yang cukup bagi tubuh
beradaptasi pada tekanan udara di setiap ketinggian, nah kalau jalan cepat
dengan langkah lebar sekilas memang terlihat cepat namun cepat lelah efeknya
lebih sering istirahat.
– Perkecil jarak langkah fungsinya agar beban tidak terlalu lama di tahan oleh
sebelah kaki dan hasilnya tidak cepet capek
– Bila mau lebih aman lagi, buat format pendakian yang ada di depan leader dan
orang yang baru pertama kali mendaki atau orang yang fisiknya agak lemah jadi
apabila dia berhenti buat untuk waktu kita istirahat, dan setelah dia kuat
kembali, baru deh kita lanjutkan kembali pendakiannya
– Coba teknik 1 tarikan nafas untuk 4 langkah / 1 tarikan nafas untuk 1
langkah. Coba dulu mana yang nyaman
– Kalo lagi perjalanan turun gunung posisi kaki jangan lurus tapi agak miring
45 derajat ke dalam untuk mencegah tergelincir
Demikian beberapa teknik berjalan yang bisa saya bagikan, teknik berjalan ini
mungkin bisa menjadi pedoman tapi kembali lagi ke anda. Bila jam terbang sudah
tinggi tentu memiliki teknik nya masing masing atau mungkin anda pendaki senior
terbiasa berjalan tanpa melakukan istirahat sama sekali.

Leave a Reply

Select Language