Catatan Perjalanan Pendakian Gunung Arjuno via Tretes




Pendakian Gunung Arjuno via Tretes

Gunung Arjuno
Gunung Arjuno

Menjelang ujian tengah semester Cikasur dan teman-teman dari Ekonomi Islam Unair menyusun rencana pendakian, tujuannya adalah Gunung Arjuno melewati jalur tretes. Ini adalah puncak dari acara Himpunan Mahasiswa Ekonomi Islam setelah melalui acara Ekonomi Islam Give Donation (EGD) , Ospek jurusan dan Iqtishoduna/ Sharia Fair. Awalnya peserta yang akan ikut membeludak, namun menjelang hari H terus menyusut hingga tersisa 6 orang.


Hari ke 1 :

Berangkat jam 9 malam dari Surabaya kami langsung menuju ke Pos Perijinan yang letaknya ada di sebelah Hotel Surya Tretes, kalau air terjun kakek bodo belok kanan sementara pos perijinan ada di kiri. Sampai di pos perijinan kami istirahat sebentar kemudian melakukan pendakian jam 11.30.

Trek awal pendakian yaitu jalan lebar dengan batu yang sudah disusun rapi, jalurnya terus menanjak dan berkelok-kelok sampai bertemu persimpangan jalan dari kakek bodo. Jeep pengambil belerang mulai naik dari pos air terjun kakek bodo. 40 Menit mendaki sampai juga di Pet Bocor, disini bisa mengisi air dari pipa yang bocor. Ada juga warung, tapi karena sudah malam kami tidak berhenti disini. Beberapa menit setelah itu kita akan bertemu dengan Pos penjagaan, bangunan dari semen ini Nampak tidak pernah digunakan meskipun tergolong masih baru.

Jalur terus berkelok dan mendaki, jalur pendakian Gunung Arjuno via Tretes ini tergolong jalur yang membosankan karena pemandangan yang didapat mirip-mirip. Hanya batu dan pepohonan. Sesekali lolongan anjing liar menemani perjalanan kami. Mendaki malam hari adalah pilihan yang tepat karena tidak kepanasan hingga tidak banyak minum. Pohon di kanan kiri mulai hilang berganti dengan semak-semak, tandanya sudah hampir sampai di Kokopan. Ada makam yang tidak diketahui identitasnya juga di tikungan terakhir Pos Kokopan.


Trek Gunung Arjuno
Trek Menuju Kokopan

Hari ke 2 Pendakian Gunung Arjuno

Paginya aku bangun kesiangan, jam 7 baru keluar tenda untuk mengambil air kemudian memasak. Menu hari ini Tempe penyet dan terong penyet. Ada salah satu teman yang sangat ahli dalam memasak kami ajak, dia bahkan membawa cobek sendiri. Packing ulang dilakukan setelah semua selesai dan perjalanan ke Pondokan dimulai, jam 11 kami mulai pendakian ke pondokan. Jalur yang dilalui masih sama yaitu bebatuan, namun tidak membosankan karena Nampak pemandangan gunung penanggungan di belakang kita. Ada jalur dengan tanjakan tanpa bonus dalam perjalanan menuju ke Pondokan, panjang sekali seakan tidak ada habisnya.

Berulang kali kami beristirahat hingga membuat persediaan air menipis. Jalur trabasan banyak dijumpai,tapi sebaiknya gunakan jalur yang sudah jelas saja. Kebakaran hutan di Gunung Arjuno ini membuat pinus pinus yang berusia ratusan tahun itu  tumbang . Harusnya perjalanan kita akan melalui hijaunya hutan pinus, kebakaran ini juga membuat monyet liar dan ayam hutan mendekati jalur pendakian padahal biasanya tidak seramai ini.

Perjalanan ke Pondokan
Terbakar

 

Perjalanan ke Pondokan 2
Di Atas Kokopan Ada Pos

Pondokan adalah pos yang dipakai oleh penambang belerang untuk meletakkan hasil tambangnya. Penambang mengambil belerang dari Gunung Welirang dan kemudian diangkut oleh Jeep 1 minggu 2 kali. Harga per kg yaitu 1300 rupiah yang diambil setiap 6 ton. Ada warung di Pondokan , setelah sampai kami langsung menuju ke warung dan memesan minuman. Harganya sangat murah bahkan dibanding dengan warung di Surabaya. Sebagai contoh Hemaviton disini Rp2000 sedangkan di Surabaya mencapai Rp3000. Sayangnya dia juga menjual bunga edelweiss, bunga abadi itu tak seharusnya dipetik dan dijual dengan harga yang sangat murah.Sumber air di Pondokan mengecil saat musim kemarau, tapi masih ada sedikit dan bisa digunakan untuk minum/masak.

Kami mendirikan tenda di Pondokan , dan bertanya-tanya bagaimana jalur yang akan dilalui besok. Penjaga warung menyarankan baiknya berangkat pagi hari agar tidak boros air dan masih bisa melihat pemandangan yang bagus. Kami pun meng iya kan , besok berangkat jam 3 pagi. Malam itu diisi dengan makan terong penyet dan tidur jam 9 malam.

Hari ke 3 :

Aku dibangunkan jam 3 pagi , menu sarapan pagi tidak aneh-aneh. Cukup Indomie Goreng. Setelah semua siap jam 4.30 kami berangkat menuju puncak Gunung Arjuno. Dari pondokan kita ambil jalur ke kiri, jalannya cukup jelas meskipun banyak terbakar. Bekal untuk menuju puncak adalah 1 Botol air 1,5L tiap anak dan berbagai roti.

Lembah Kidang Gunung Arjuno
Lembah Kidang
Menuju Puncak Gunung Arjuno
Menuju Puncak

30 Menit berjalan sampai di Lembah Kidang, kami melaksanakan shalat shubuh disini dan melanjutkan perjalanan. Trek awal lumayan landai sampai kemudian jalur agak menyempit dan terus menanjak. Mirip Arcapada di Gunung Semeru. Matahari sudah terbit kami masih belum setengah jalan, kami terus berjalan pelan saja. Pos Watu Gedhe sudah kami lewati, jalur makin menanjak. Puncak sudah terlihat meskipun masih sangat jauh sepertinya. Sekitar 4 jam berjalan kami sampai di tempat agak landau, ada beberapa makam disini. Puncak sudah semakin dekat. Angin yang berhembus kencang membuat langkah kami semakin pelan.

Pemandangan Gunung Arjuno
Welirang + Kembar keliatan tuh
Mirip Trek Semeru
Mirip Arcopodo
Sudah mendekati puncak gunung arjuno
Dekat Puncak

Tidak lama berjalan akhirnya sampai juga di puncak Gunung Arjuno. Perjalanan panjang ini terbayar oleh pemandangan yang indah. Terlihat Gunung Welirang,Gunung Penanggungan dan Gunung Semeru. Nampak juga jalur pendakian via purwosari terbakar. Vandalisme yang dilakukan pendaki banyak dijumpai di puncak gunung arjuno ini, sangat disayangkan sekali.

Puncak Gunung Arjuno
Alhamdulillah

Perjalanan turun kami lakukan dengan cepat, sampai di pondokan kami packing langsung menuju ke pos perijinan karena dikejar waktu. Semoga cerita pendakian Gunung Arjuno kali ini bisa memberi manfaat.

Terimakasih



No Responses

Leave a Reply